Biaya modal
Cost of Equity: Teori, Formula, dan Parameter Penilaian
Membedah CAPM, Security Market Line, dan model build-up Ke = Rf + (β×ERP) + CDS — parameter demi parameter, untuk estimasi tingkat diskonto ekuitas dalam penilaian bisnis di Indonesia.
Ringkasan Eksekutif
Cost of equity (Ke) adalah tingkat return yang disyaratkan investor ekuitas atas risiko yang mereka tanggung ketika menanamkan modal pada suatu bisnis. Dalam penilaian dengan pendekatan pendapatan (income approach), Ke menjadi discount rate untuk arus kas ke pemegang saham, dan merupakan komponen penyusun WACC ketika arus kas yang dinilai adalah arus kas ke seluruh penyedia modal.
Artikel ini membedah dua formula yang paling umum dipakai praktisi untuk mengestimasi Ke: CAPM klasik, E(Ri) = Rf + βi[E(Rm) − Rf], dan model build-up yang lazim dipakai untuk pasar berkembang seperti Indonesia, Ke = Rf + (β × ERP) + CDS. Setiap parameter — risk-free rate, beta, equity risk premium, dan country default spread — dijelaskan definisi, logika ekonomi, dan sumber datanya satu per satu.
Inti argumen
Rf adalah titik berangkat bebas risiko. Selisih (Rm − Rf), yaitu ERP, adalah kompensasi yang pantas diminta investor karena berpindah dari aset bebas risiko ke risiko pasar saham secara agregat. Beta kemudian menyalurkan porsi risiko pasar itu secara proporsional ke saham atau perusahaan tertentu — bukan mengalikan Rf, karena komponen bebas risiko secara definisi tidak proporsional terhadap risiko pasar. Untuk perusahaan yang beroperasi di pasar berkembang seperti Indonesia, model build- up menambahkan CDS secara terpisah karena Rf dan ERP yang umum dipakai berbasis data pasar matang (AS) dan belum mencerminkan risiko spesifik negara.
Studi kasus ilustratif pada artikel ini (Rf 4,30%, ERP 5,00%, β 1,15, CDS 1,80%) menghasilkan Ke ≈ 11,85%. Artikel ditutup dengan sumber data yang lazim dipakai penilai di Indonesia serta keterbatasan pendekatan ini — termasuk risiko penghitungan ganda (double counting) risiko negara jika parameter dicampur dari kerangka yang berbeda.
Untuk siapa artikel ini? Ditulis untuk penilai bisnis, analis keuangan, mahasiswa, dan pembaca awam yang ingin memahami logika di balik salah satu formula paling sering dipakai — namun paling jarang dijelaskan secara utuh — dalam praktik penilaian dan valuasi perusahaan.
Pendahuluan: Peran Cost of Equity dalam Penilaian
Dalam pendekatan pendapatan (income approach) untuk penilaian bisnis dan penyertaan modal — sejalan dengan kerangka SPI 302 dan IVS 105 — arus kas masa depan diproyeksikan, kemudian didiskontokan ke nilai kini menggunakan tingkat diskonto yang mencerminkan risiko arus kas tersebut. Di sinilah cost of equity berperan: ia adalah "harga" risiko yang disyaratkan investor ekuitas, dinyatakan dalam persentase return tahunan.
Dua jalur penerapan yang paling umum dijumpai dalam penugasan penilaian:
- Free Cash Flow to Equity (FCFE) — arus kas yang tersisa untuk pemegang saham setelah seluruh kewajiban kepada kreditur dipenuhi, didiskontokan langsung dengan Ke. Hasilnya adalah nilai ekuitas (equity value).
- Free Cash Flow to Firm (FCFF) — arus kas untuk seluruh penyedia modal (ekuitas dan utang), didiskontokan dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC), yang salah satu komponennya adalah Ke (untuk porsi pembiayaan ekuitas) dan komponen lainnya cost of debt setelah pajak. Hasilnya adalah nilai perusahaan (enterprise value), yang kemudian dikurangi utang berbunga untuk memperoleh nilai ekuitas.
Pada kedua jalur tersebut, Ke adalah bahan baku yang tidak terhindarkan. Karena arus kas bisnis pada umumnya diproyeksikan untuk periode panjang — bahkan perpetual pada metode terminal value — sensitivitas hasil penilaian terhadap Ke sangat tinggi. Selisih estimasi sebesar satu poin persentase saja pada Ke dapat menggeser nilai akhir suatu entitas, terutama entitas dengan horizon arus kas panjang seperti tambang, infrastruktur, atau properti penghasil pendapatan (income-producing property).
Mengapa ini penting bagi penilai: karena dampaknya material terhadap opini nilai, setiap parameter penyusun Ke harus memiliki basis yang dapat dipertanggungjawabkan dan didokumentasikan — bukan angka yang dipilih berdasarkan intuisi (judgement semata) tanpa jejak sumber data.
Yang akan dibahas
Bagian berikut membedah formula CAPM dasar dan menjelaskan setiap parameternya satu per satu (Rf, β, Rm, dan ERP), menjabarkan logika ekonomi di balik mengapa Rm harus dikurangi Rf sebelum dikalikan beta, lalu memperluas pembahasan ke model build-up Ke = Rf + (β×ERP) + CDS yang menambahkan premi risiko negara — relevan khusus untuk penilaian di pasar berkembang seperti Indonesia.
Formula CAPM Dasar dan Parameternya
Capital Asset Pricing Model (CAPM), diperkenalkan William F. Sharpe (1964) berdasarkan kerangka diversifikasi portofolio Harry Markowitz, adalah model paling banyak dipakai untuk mengestimasi cost of equity. Formula dasarnya:
E(Ri) = Rf + βi × [E(Rm) − Rf]
Empat simbol dalam formula ini masing-masing mewakili satu blok logika yang berbeda:
E(Ri) Expected Return / Cost of Tingkat return yang disyaratkan investor atas saham atau Equity perusahaan i — inilah hasil akhir yang dicari, dipakai sebagai discount rate.
Rf Risk-Free Rate Return aset yang (secara teoritis) bebas dari risiko gagal bayar — titik berangkat perhitungan.
βi Beta Ukuran sensitivitas risiko sistematis saham i relatif terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan.
E(Rm) − Rf Equity Risk Premium Selisih antara ekspektasi return pasar saham dan risk-free rate — (ERP) kompensasi untuk menanggung risiko pasar secara agregat.
Ketiga parameter input (Rf, β, dan ERP) dijelaskan satu per satu pada sub-bagian berikut, termasuk cara memperolehnya dan sumber data yang lazim dipakai di Indonesia.
2.1 Risk-Free Rate (Rf)
Risk-free rate adalah return yang diperoleh investor dari aset yang, secara teoritis, tidak memiliki risiko gagal bayar (default risk) maupun risiko reinvestasi yang berarti dalam horizon penilaian. Dalam praktik, tidak ada aset yang benar-benar 100% bebas risiko — Rf didekati dengan yield obligasi pemerintah bertenor panjang, karena pemerintah dianggap memiliki kemampuan membayar kewajiban mata uangnya sendiri paling tinggi di antara penerbit obligasi di pasarnya.
Basis mata uang keras / mature market: yield US Treasury tenor 10 tahun — proksi Rf yang paling umum dipakai sebagai titik berangkat Global CAPM. Basis Rupiah / pasar domestik: yield Surat Berharga Negara (SBN) acuan tenor 10 tahun, dipublikasikan harian oleh Kementerian Keuangan (DJPPR) dan Indonesia Bond Pricing Agency
Prinsip pencocokan (matching principle): tenor Rf idealnya mencerminkan horizon arus kas yang didiskontokan — karena proyeksi bisnis umumnya bersifat jangka panjang/perpetual, dipakai obligasi tenor panjang (10 tahun), bukan instrumen jangka pendek seperti SBI atau T-Bill 3 bulan. Mata uang Rf juga harus konsisten dengan mata uang arus kas yang diproyeksikan.
2.2 Beta (β)
Beta mengukur sensitivitas return suatu saham terhadap return pasar secara keseluruhan — dengan kata lain, seberapa besar porsi risiko sistematis (risiko yang tidak bisa dihilangkan lewat diversifikasi portofolio) yang melekat pada saham tersebut, relatif terhadap pasar.
- Perusahaan tercatat (listed): dihitung lewat regresi return historis saham terhadap return indeks pasar — menghasilkan raw/historical beta.
- Perusahaan tertutup (non-listed) — umum dijumpai dalam penugasan KJPP — beta diturunkan dari sekumpulan perusahaan pembanding sejenis yang tercatat: beta levered pembanding di- unlever (menghilangkan efek struktur modal masing-masing), dirata-ratakan, lalu di-relever kembali memakai struktur modal objek penilaian (persamaan Hamada). Sumber data beta industri: Damodaran Online (beta per industri dan per negara/kawasan, diperbarui berkala) dan fungsi BETA pada Bloomberg Terminal.
| β = 1 | Bergerak sejalan dengan pasar — menerima ERP penuh, tanpa penyesuaian. |
|---|---|
| β > 1 | Lebih volatil dari pasar (mis. tambang, properti, teknologi) — premi risiko yang disyaratkan lebih besar dari ERP. |
β < 1 Lebih defensif dari pasar (mis. utilitas, consumer non-siklikal) — premi risiko lebih kecil dari
β = 0 Tidak ada risiko sistematis — secara teoritis, Ke = Rf saja.
2.3 Expected Market Return (Rm) dan Equity Risk Premium
Rm adalah ekspektasi return pasar saham secara keseluruhan, diwakili indeks yang representatif — misalnya IHSG untuk pasar Indonesia, atau S&P 500 untuk pasar Amerika Serikat. Yang sebenarnya dipakai langsung dalam formula CAPM bukan Rm itu sendiri, melainkan selisihnya terhadap Rf: Equity Risk Premium (ERP), juga disebut Market Risk Premium.
Tiga metode umum untuk mengestimasi ERP:
| Historical ERP | Rata-rata selisih return pasar saham terhadap obligasi pemerintah selama periode historis panjang (misalnya data pasar AS sejak awal 1900-an ala Damodaran/Ibbotson). Lebih reliable pada pasar dengan riwayat data panjang dan likuid. |
|---|---|
| Implied / forward- | Diturunkan dari model diskonto dividen pada level indeks saat ini — mencari ERP |
| looking ERP | yang membuat harga pasar saat ini konsisten dengan proyeksi arus kas/dividen ke depan. |
Survey-based ERP Hasil survei ekspektasi return dari akademisi, analis, dan praktisi pasar modal.
Untuk Indonesia, ERP yang dipakai penilai pada umumnya tidak dihitung historis langsung dari data IHSG — riwayat datanya relatif pendek dan volatilitasnya tinggi sehingga kurang stabil secara statistik. Praktik yang lebih lazim adalah menurunkan ERP dari ERP pasar matang (mature market ERP, biasanya berbasis data AS) ditambah country risk premium terpisah — dibahas pada Bagian 4.
ERP = E(Rm) − Rf
Secara intuitif, ERP adalah "upah" tambahan yang diminta investor supaya mau berpindah dari aset bebas risiko ke kelas aset saham yang risikonya lebih tinggi. Semakin besar ERP, semakin besar kompensasi yang dituntut pasar atas risiko sistematis yang melekat pada saham sebagai kelas aset — logika inilah yang dibahas lebih jauh pada bagian berikut.
Mengapa E(Rm) Harus Dikurangi Rf?
Ini adalah pertanyaan paling mendasar — dan paling sering terlewat — ketika mempelajari CAPM. Jawabannya terletak pada logika ekonomi tentang bagaimana investor rasional menentukan harga risiko.
- Jika investor dapat memperoleh Rf tanpa menanggung risiko sama sekali, maka agar rasional mau berpindah ke aset berisiko (saham), pasar harus menawarkan ekspektasi return di atas Rf. Jika Rm sama dengan Rf, tidak ada investor rasional yang mau menanggung risiko tambahan tanpa kompensasi apa pun.
- Selisih itulah — (Rm − Rf) alias ERP — yang merepresentasikan seluruh risiko sistematis yang melekat pada pasar saham sebagai kelas aset secara agregat: risiko siklus bisnis, risiko likuiditas pasar modal, risiko ekonomi makro, dan risiko-risiko lain yang tidak bisa dihilangkan lewat diversifikasi portofolio. Beta kemudian berfungsi sebagai faktor penyalur: seberapa besar porsi dari risiko pasar agregat tersebut yang tercermin pada saham atau perusahaan tertentu. Rf sengaja tidak ikut dikalikan beta. Jika formulanya ditulis langsung sebagai E(Ri) = Rf + β×Rm (tanpa pengurangan terlebih dahulu), komponen bebas risiko akan ikut diskalakan oleh beta — padahal secara definisi risiko pada Rf adalah nol, sehingga tidak proporsional terhadap risiko pasar. Karena itu, secara matematis maupun ekonomis, hanya premi (selisih di atas Rf) yang pantas dikalikan beta.
Gambar 1. Security Market Line (SML) — garis ini memvisualisasikan CAPM: titik potong sumbu-Y adalah Rf (saat β=0, tanpa risiko sistematis), kemiringan garis sama dengan ERP, dan tiap titik di sepanjang garis menunjukkan required return yang proporsional terhadap tingkat risiko sistematis (β) perusahaan tersebut. Angka pada grafik bersifat ilustratif.
Dari CAPM ke Model Build-up
4.1 Kenapa CAPM Dasar Perlu Disesuaikan untuk Pasar Berkembang CAPM klasik dibangun dan paling banyak diuji secara empiris di pasar modal yang matang, likuid, dan memiliki riwayat data panjang — terutama Amerika Serikat. Akibatnya, Rf dan ERP yang paling reliable dan paling banyak dipakai sebagai acuan umumnya bersumber dari data pasar tersebut (mature market).
Masalahnya, perusahaan yang dinilai beroperasi di Indonesia menghadapi lapisan risiko tambahan yang tidak tercermin pada Rf AS maupun ERP AS: risiko politik dan kebijakan, risiko nilai tukar dan pembatasan transfer modal, risiko likuiditas pasar modal domestik, hingga risiko gagal bayar pemerintah (sovereign default risk). Beta perusahaan pembanding yang di-unlever/relever dari emiten AS atau kawasan lain pun tidak otomatis menangkap risiko negara ini — karena beta mengukur risiko sistematis relatif terhadap pasarnya sendiri, bukan risiko lintas negara.
Karena itu, praktisi valuasi — metodologi ini dipopulerkan terutama oleh Aswath Damodaran (New York University Stern School of Business) — menambahkan komponen premi risiko negara secara eksplisit dan aditif (dijumlahkan, bukan dikalikan beta) ke formula CAPM. Komponen tambahan inilah yang dikenal sebagai Country Default Spread (CDS), menghasilkan model build-up:
Ke = Rf + (β × ERP) + CDS BUILD-UP MODEL — GLOBAL CAPM DENGAN PREMI RISIKO NEGARA
Rf Return dasar bebas risiko Basis (biasanya US T-Bond, acuan global)
β×ERP Premi risiko sistematis Proporsional terhadap β perusahaan perusahaan relatif terhadap pasar matang
CDS Premi tambahan untuk risiko Aditif rata — dianggap berdampak setara untuk semua spesifik negara tempat bisnis perusahaan di negara tersebut beroperasi
CDS ditambahkan secara aditif, bukan dikalikan beta, karena risiko negara dipandang sebagai risiko yang berdampak kurang-lebih merata pada semua perusahaan yang beroperasi di negara tersebut — terlepas dari besar-kecilnya beta masing-masing perusahaan. Ini berbeda dengan risiko pasar yang memang proporsional terhadap beta.
4.2 Country Default Spread (CDS)
Country Default Spread adalah premi tambahan yang mencerminkan risiko spesifik suatu negara. Umumnya diestimasi dari selisih yield antara obligasi pemerintah negara tersebut — dalam denominasi mata uang keras/USD agar dapat diperbandingkan secara apel-ke-apel — dengan yield US Treasury bertenor sama. Sumber alternatif adalah harga Credit Default Swap (CDS) 5 tahun atas utang negara tersebut di pasar derivatif — dari sinilah singkatan CDS pada formula berasal.
| Spread sovereign bond Indonesia | Perbandingan langsung yield obligasi pemerintah dalam mata uang yang |
|---|---|
| (global bond USD) vs. US Treasury | sama |
| Harga sovereign Credit Default | Data pasar derivatif (mis. Bloomberg, Reuters) — mencerminkan |
|---|---|
| Swap 5-tahun Indonesia | persepsi risiko kredit negara secara real-time |
| Country Risk Premium table — | Tabel premi risiko per negara, diperbarui berkala berdasarkan rating |
|---|---|
| Damodaran Online | sovereign S&P/Moody’s/Fitch |
| EMBI Global spread Indonesia (JP | Emerging Markets Bond Index Global — indeks spread obligasi emerging |
|---|---|
| Morgan) | market yang banyak dipakai sebagai acuan |
Catatan teknis — penyesuaian volatilitas: sebagian praktisi menyesuaikan CDS mentah dengan faktor volatilitas relatif pasar saham terhadap pasar obligasi negara tersebut (λ = σekuitas / σobligasi), sehingga Country Risk Premium = CDS × λ — karena volatilitas saham pada umumnya lebih tinggi dari obligasi, risiko negara "dikonversi" secara proporsional ke instrumen ekuitas. Formula sederhana pada artikel ini (Ke = Rf + β×ERP + CDS, tanpa faktor λ) menambahkan CDS apa adanya — pendekatan yang lebih sederhana namun tetap umum dipakai, selama diungkapkan secara eksplisit dalam kertas kerja penilaian beserta alasannya.
CDS tidak bersifat statis — berubah seiring persepsi risiko global terhadap kredit pemerintah suatu negara: perubahan rating sovereign, kondisi fiskal, kondisi geopolitik, hingga sentimen pasar modal global. Penilai wajib menggunakan data per tanggal penilaian (cut-off date) yang relevan dengan penugasan, bukan data historis yang sudah kedaluwarsa.
Studi Kasus Ilustratif: Menghitung Cost of Equity
Untuk menyatukan seluruh parameter yang sudah dibahas, berikut simulasi perhitungan Ke dengan model build-up untuk sebuah perusahaan ilustratif yang beroperasi di Indonesia, dengan basis Rf dan ERP dari pasar matang (Global CAPM).
Risk-free rate (Rf) 4,30% Proksi yield US Treasury 10 tahun
Equity risk premium (ERP) 5,00% ERP mature market (basis AS)
| Beta relevered (β) | 1,15 Hasil unlever-relever dari pembanding sejenis |
|---|---|
| Premi risiko pasar (β×ERP) | 5,75% 1,15 × 5,00% |
Country Default Spread (CDS) 1,80% Indikasi premi risiko Indonesia
Cost of Equity (Ke) 11,85% 4,30% + 5,75% + 1,80%
Gambar 2. Build-up Ke secara bertahap — tiap balok adalah satu komponen yang ditambahkan secara kumulatif. Angka ilustratif.
Hati-hati penghitungan ganda (double counting): CDS hanya ditambahkan jika Rf dan ERP yang dipakai berbasis mature market (Global CAPM). Jika sebaliknya penilai memakai pendekatan Local CAPM — Rf dari SBN Indonesia dan ERP yang sudah dihitung dari data pasar domestik (yang secara implisit sudah mengandung risiko negara) — maka CDS tidak perlu ditambahkan lagi. Menambahkan CDS pada kedua kerangka sekaligus akan menghitung risiko negara dua kali dan menghasilkan Ke yang terlalu tinggi.
Sensitivitas Ke terhadap Beta Sektor
Dengan Rf, ERP, dan CDS yang sama, perbedaan beta antarsektor menghasilkan Ke yang cukup berbeda — menunjukkan betapa pentingnya pemilihan beta pembanding yang benar-benar mencerminkan profil risiko sektor objek penilaian.
Gambar 3. Perbandingan Ke ilustratif lintas sektor — hanya β yang berbeda, Rf, ERP, dan CDS tetap. Angka bersifat indikatif untuk ilustrasi, bukan beta aktual industri.
Sektor dengan arus kas lebih stabil dan permintaan inelastis (utilitas, infrastruktur) cenderung memiliki beta di bawah 1 sehingga Ke-nya lebih rendah. Sebaliknya, sektor yang arus kasnya lebih sensitif terhadap siklus komoditas dan ekonomi makro — seperti pertambangan batubara — cenderung memiliki beta di atas 1, sehingga Ke-nya lebih tinggi. Ini konsisten dengan prinsip dasar CAPM: semakin tinggi risiko sistematis yang ditanggung, semakin tinggi pula return yang disyaratkan investor.
Implikasi praktis bagi penilai: pemilihan perusahaan pembanding untuk menurunkan beta harus benar-benar sebanding dari sisi model bisnis, eksposur siklus, dan struktur biaya — bukan sekadar berada pada klasifikasi industri yang sama secara administratif.
Sumber Data yang Umum Dipakai di Indonesia
Ringkasan sumber data lazim untuk tiap parameter Ke, sebagai titik awal penelusuran — penilai tetap wajib memverifikasi dan mendokumentasikan sumber yang benar-benar dipakai sesuai tanggal cut-off penugasan.
Rf (basis USD) U.S. Department of the Treasury — Pilih tenor 10/20/30 tahun sesuai horizon daily par yield curve proyeksi
Rf (basis Rupiah) Kementerian Keuangan (DJPPR), Yield SBN acuan, sesuaikan tenor dengan Indonesia Bond Pricing Agency horizon proyeksi
ERP mature market Damodaran Online — dataset ERP Pilih metodologi (historical/implied) yang historis & implied, diperbarui konsisten dan diungkapkan bulanan
Beta industri Damodaran Online (by industry, Unlever – relever sesuai struktur modal objek emerging markets); Bloomberg penilaian (fungsi BETA)
| Country Default Spread | Damodaran country risk premium Perbarui per tanggal cut-off penilaian — CDS |
|---|---|
| / CRP | table; EMBI Global spread (JP berubah seiring waktu Morgan); harga sovereign CDS 5- tahun |
| Nilai tukar (jika konversi | Kurs referensi/tengah Bank Gunakan kurs pada tanggal penilaian, |
|---|---|
| USD–IDR) | Indonesia (JISDOR) konsisten dengan mata uang arus kas |
Daftar sumber bersifat indikatif sebagai titik awal penelusuran, bukan daftar lengkap seluruh penyedia data yang tersedia di pasar.
Konsistensi lintas-parameter sama pentingnya dengan ketepatan masing-masing angka: Rf, ERP, beta, dan CDS harus berasal dari kerangka (Global CAPM atau Local CAPM) dan tanggal data yang sama, agar hasil Ke dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.
Keterbatasan dan Catatan Kehati-hatian
- CAPM dan model build-up adalah model, bukan kebenaran mutlak. Keduanya mengasumsikan investor rasional, portofolio yang terdiversifikasi dengan baik, dan pasar yang relatif efisien — asumsi yang tidak selalu sepenuhnya berlaku, khususnya pada pasar modal dengan likuiditas terbatas. Risiko penghitungan ganda (double counting). Sebagaimana dibahas pada Bagian 5, jika ERP yang dipakai sudah mencakup risiko negara (ERP "total" versi lokal), menambahkan CDS lagi akan menduplikasi risiko yang sama. Pilih satu kerangka yang konsisten: Global CAPM (Rf mature market + ERP mature market + CDS eksplisit) atau Local CAPM (Rf lokal + ERP lokal yang sudah mengandung risiko negara, tanpa CDS tambahan).
- Risiko spesifik perusahaan (unsystematic risk) — seperti ukuran perusahaan yang kecil, ketergantungan pada pelanggan atau pemasok tunggal, kualitas dan kedalaman manajemen, hingga keterbatasan akses pembiayaan — pada umumnya tidak tercakup dalam CAPM maupun model build-up dasar. Banyak praktisi menambahkan premi tambahan terpisah (small-size premium, company-specific risk premium) di luar formula ini, dengan pertimbangan profesional yang terdokumentasi.
- Beta historis mengasumsikan masa depan menyerupai masa lalu — asumsi yang perlu diuji ulang relevansinya, terutama untuk perusahaan yang sedang mengalami perubahan struktural (ekspansi, divestasi, perubahan lini bisnis).
- Dokumentasi adalah keharusan, bukan pelengkap. Seluruh parameter — sumber data, tanggal pengambilan, dan metodologi perhitungan — wajib didokumentasikan dalam kertas kerja penilaian, sejalan dengan prinsip transparansi dan keterujian (replicability) yang disyaratkan SPI dan IVS.
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan menjelaskan logika di balik formula, bukan untuk dipakai sebagai opini nilai atau rekomendasi parameter untuk penugasan penilaian tertentu. Setiap penugasan penilaian memiliki konteks, objek, dan tanggal cut-off yang berbeda-beda, yang menuntut penelusuran data dan pertimbangan profesional tersendiri.
Referensi Utama
Sharpe, W.F. (1964). Capital Asset Prices: A Theory of Market Equilibrium under Conditions of Risk. Journal of Finance, 19(3), 425–442.
Markowitz, H. (1952). Portfolio Selection. Journal of Finance, 7(1), 77–91.
Damodaran, A. Equity Risk Premiums (ERP): Determinants, Estimation and Implications. NYU Stern School of Business. https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/
Damodaran, A. Country Default Spreads and Risk Premiums. NYU Stern School of Business. https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/ctryprem.html
Damodaran, A. Betas by Sector. NYU Stern School of Business. https://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/Betas.html
Pratt, S.P., & Grabowski, R.J. Cost of Capital: Applications and Examples (5th ed.). Wiley.
J.P. Morgan. Emerging Markets Bond Index Global (EMBI Global) — metodologi indeks spread obligasi emerging market.
International Valuation Standards Council (IVSC). International Valuation Standards, edisi efektif 31 Januari 2025 — IVS 105 Valuation Approaches and Methods. https://ivsc.org/standards/
Komite Penyusun Standar Penilaian Indonesia (KPSPI). Standar Penilaian Indonesia (SPI) 302 — Penilaian Bisnis.
Kementerian Keuangan RI, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR). Data yield Surat Berharga Negara. https://www.djppr.kemenkeu.go.id/
U.S. Department of the Treasury. Daily Treasury Par Yield Curve Rates. https://home.treasury.gov/resource- center/data-chart-center/interest-rates
Disusun untuk publikasi ValuasiNusantara.com · Artikel edukasi, angka pada studi kasus bersifat ilustratif · Versi: Oktober 2026