Teknis penilaian properti
Penilaian Properti dengan Pendekatan Pendapatan: Metode DCF untuk Hotel
Properti penghasil pendapatan seperti hotel, rumah kos, dan SPBU dapat dinilai dengan pendekatan pendapatan. Contoh lengkap penilaian hotel bintang 4 di Surabaya per 31 Desember 2025 dengan metode DCF.
PENILAIAN PROPERTI HOTEL DENGAN METODE DISCOUNTED CASH FLOW (DCF)
Penentuan Tingkat Diskonto dan Contoh Valuasi Hotel Bintang 4 di Surabaya
Tanggal Penilaian: 31 Desember 2025
Contoh edukatif / ilustratif. Angka dalam artikel ini bukan pengganti laporan penilaian profesional dan harus dikalibrasi dengan data operasional, fisik aset, lokasi, legalitas, serta data pasar aktual objek.
Ringkasan Eksekutif
Hotel merupakan properti yang menghasilkan pendapatan berulang dari kamar, makanan dan minuman, meeting/event, serta sumber pendapatan lain. Karena nilai hotel sangat bergantung pada kemampuan aset menghasilkan arus kas di masa depan, pendekatan pendapatan—khususnya Discounted Cash Flow (DCF)—merupakan salah satu pendekatan yang sangat relevan untuk mengestimasi nilai pasar atau nilai investasi, dengan catatan bahwa asumsi harus didukung data pasar dan operasional yang memadai.
Dalam contoh ini digunakan hotel bintang 4 di Surabaya dengan 100 kamar, terdiri dari 50 Superior, 40 Deluxe, dan 10 Suite. Tarif indikatif tahun dasar menghasilkan weighted average ADR sekitar Rp 995.000 per kamar terjual. Okupansi awal diasumsikan 55,00%, kemudian meningkat bertahap menuju tingkat stabil sekitar 64,00%. Dengan tingkat diskonto 12,00% dan terminal capitalization rate 9,00%, nilai indikatif hotel berdasarkan DCF sekitar Rp 94,35 miliar.
1. Kondisi Pasar Surabaya sebagai Dasar Asumsi
BPS Kota Surabaya melaporkan TPK hotel gabungan sebesar 52,96% pada Desember 2025, meningkat 2,67 poin dari November 2025. Data ini menjadi anchor penting untuk menentukan asumsi okupansi pada tanggal penilaian 31 Desember 2025. Hotel individual tidak harus sama dengan TPK kota karena perbedaan lokasi, kelas, fasilitas, brand, kualitas layanan, dan strategi revenue management.
Sebagai cross-check tarif, sumber pemesanan hotel yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa tarif hotel bintang 4 di Surabaya dapat berada pada rentang yang cukup lebar. Trip.com, misalnya, menampilkan rata-rata sekitar Rp1,18 juta pada hari kerja dan sekitar Rp1,23 juta pada akhir pekan pada hasil yang terindeks. Sementara itu, beberapa hotel bintang 4 menampilkan tarif kamar yang lebih rendah atau lebih tinggi tergantung tanggal, promo, sarapan, dan tipe kamar. Karena harga OTA bersifat date-specific dan promo-sensitive, angka tersebut digunakan hanya sebagai market cross-check, bukan sebagai satu-satunya dasar penilaian historis per 31 Desember 2025.
2. Profil Hotel dan Asumsi Harga Kamar
Tarif di atas sengaja dibuat sebagai asumsi kerja yang mudah dipahami. Dalam penilaian aktual, penilai sebaiknya membuat competitive set yang terdiri atas hotel bintang 4 dengan lokasi, usia, kualitas, fasilitas, dan positioning yang sebanding. Tarif harus diuji melalui data aktual room rack rate, realized ADR, OTA, corporate rate, group rate, seasonality, weekday/weekend mix, dan historical occupancy.
3. Memahami ADR, Occupancy, dan RevPAR
- ADR (Average Daily Rate) = Pendapatan kamar / jumlah kamar yang terjual.
- Occupancy = jumlah kamar terjual / jumlah kamar tersedia.
- RevPAR (Revenue per Available Room) = ADR × Occupancy. RevPAR penting karena menggabungkan harga dan tingkat hunian.
- Dalam DCF hotel, jangan menaikkan ADR dan occupancy secara agresif sekaligus tanpa dukungan pasar karena keduanya saling berkaitan melalui revenue management.
Dengan weighted ADR Rp 995.000 dan okupansi 55,00%, RevPAR tahun 2026 dalam contoh ini sekitar Rp 547.250 per available room night.
4. Menentukan Tingkat Diskonto untuk Hotel
Tingkat diskonto adalah tingkat pengembalian yang disyaratkan investor untuk menanggung time value of money dan risiko arus kas properti. Semakin tinggi risiko hotel, semakin tinggi tingkat diskonto dan semakin rendah nilai kini dari arus kas yang sama.
Secara konseptual, untuk arus kas tanpa leverage (unlevered/property cash flow), pendekatan yang dapat digunakan adalah:
Discount Rate ≈ Risk-free Rate + Equity/Property Risk Premium
Pada akhir 2025, yield SUN 10 tahun berada sekitar 6,16% pada lelang SUN terakhir tahun 2025 menurut Mandiri Investasi. BI-Rate pada 2025 berakhir di 4,75%. Risk-free rate untuk penilaian sebaiknya disesuaikan dengan tenor dan instrumen yang relevan, bukan otomatis memakai BI-Rate.
Untuk hotel, risk premium perlu mencerminkan volatilitas okupansi, persaingan, ketergantungan pada kondisi ekonomi dan perjalanan, kualitas operator/brand, umur dan kebutuhan renovasi, risiko capex, lokasi, serta risiko terminal value. Karena itu tidak ada satu discount rate yang berlaku untuk seluruh hotel.
4.1 Contoh build-up tingkat diskonto
Angka 5,84% bukan angka standar industri. Ini adalah residual risk premium untuk mencapai discount rate 12% pada contoh. Dalam laporan penilaian nyata, penilai perlu mendokumentasikan build-up rate, comparable transactions/companies, capital structure, country/property risk, serta konsistensi nominal/real dan sebelum/sesudah pajak.
4.2 Jika menggunakan WACC
WACC tepat digunakan apabila cash flow yang didiskontokan adalah cash flow sebelum pembiayaan (unlevered FCFF/NOI yang telah disesuaikan). Jika yang digunakan adalah cash flow kepada pemilik setelah pembayaran utang, maka discount rate harus mencerminkan cost of equity, bukan WACC. Kesalahan mencampur cash flow dan discount rate dapat menghasilkan nilai yang bias.
5. Cara Menilai Hotel dengan Metode DCF
- Tentukan tanggal penilaian dan status aset: tanah, bangunan, furniture, fixtures & equipment, izin, kontrak operator, dan aset/liabilitas lain yang termasuk dalam objek.
- Bangun historical operating statement minimal 3–5 tahun: occupancy, ADR, RevPAR, room revenue, F&B, meeting/banquet, other revenue, departmental expenses, undistributed operating expenses, GOP/EBITDA, fixed charges, dan replacement reserve.
- Analisis competitive set dan pasar lokal untuk menentukan normalized occupancy, ADR, seasonality, dan pertumbuhan.
- Forecast pendapatan kamar: jumlah kamar × 365 × occupancy × ADR.
- Forecast pendapatan lain, misalnya F&B, meeting/banquet, laundry, parking, spa, dan lainnya.
- Forecast biaya operasi dan tentukan NOI/FCF yang konsisten dengan objek yang dinilai.
- Tentukan discount rate yang konsisten dengan cash flow.
- Tentukan terminal value dengan exit capitalization rate atau metode lain yang relevan.
- Diskontokan seluruh arus kas dan terminal value ke tanggal 31 Desember 2025.
- Lakukan sensitivity analysis terhadap occupancy, ADR growth, margin, discount rate, dan terminal cap rate.
Rumus inti DCF:
Nilai = Σ [FCF_t / (1 + r)^t] + [Terminal Value / (1 + r)^n]
Terminal Value = NOI_(n+1) / Exit Capitalization Rate
6. Contoh Penilaian Hotel – Tanggal 31 Desember 2025
Contoh berikut menggunakan forecast 10 tahun, yaitu 2026–2035. Asumsi dibuat konservatif agar mudah dipahami dan dapat diganti dengan data aktual objek.
6.1 Proyeksi pendapatan dan NOI
Sebagai ilustrasi, room revenue tahun 2026 = 100 kamar × 365 hari × 55,00% × Rp 995.000 = Rp 19,97 miliar. Dengan pendapatan lain 25%, total revenue menjadi sekitar Rp 24,97 miliar. Dengan NOI margin 30%, NOI tahun 2026 sekitar Rp 7,49 miliar.
6.2 Perhitungan present value
6.3 Terminal value
NOI 2035 diproyeksikan sekitar Rp 11,37 miliar. NOI tahun berikutnya = NOI 2035 × (1 + 3%) = Rp 11,71 miliar. Dengan terminal cap rate 9%, terminal value pada akhir 2035 adalah Rp 130,15 miliar. Setelah didiskontokan 10 tahun pada 12%, present value terminal value sekitar Rp 41,91 miliar.
6.4 Hasil indikatif
Dengan asumsi tersebut, nilai indikatif hotel adalah sekitar Rp 94,35 miliar atau sekitar Rp 944 juta per kamar. Angka per kamar hanya merupakan hasil pembagian nilai total dan bukan pengganti analisis transaksi pembanding atau land/building allocation.
7. Analisis Sensitivitas
Hotel sangat sensitif terhadap tingkat diskonto dan terminal cap rate. Tabel berikut menunjukkan bagaimana nilai berubah apabila kedua asumsi tersebut bergerak.
Pada asumsi dasar 12% discount rate dan 9% exit cap, nilai sekitar Rp 97,20 miliar. Jika discount rate turun menjadi 11% dan exit cap 8,5%, nilai meningkat menjadi sekitar Rp 106,50 miliar. Sebaliknya, discount rate 13% dan exit cap 9,5% menghasilkan sekitar Rp 89,14 miliar. Hal ini menunjukkan mengapa pemilihan discount rate tidak boleh dilakukan secara arbitrer.
8. Hal yang Harus Diperhatikan dalam Penilaian Hotel Profesional
- Pisahkan real estate dari business value bila objek penilaian atau tujuan laporan mengharuskan pemisahan.
- Pastikan perlakuan tanah, bangunan, furniture, fixtures & equipment, dan intangible/operating rights konsisten dengan definisi nilai dan objek penilaian.
- Normalisasi owner-related expenses, one-off expenses, extraordinary repairs, dan pendapatan non-recurring.
- Masukkan replacement reserve/capital expenditure yang diperlukan untuk mempertahankan kemampuan hotel menghasilkan pendapatan.
- Periksa umur ekonomis bangunan, kondisi fisik, PBB, asuransi, property tax/levies, dan biaya tetap lainnya.
- Perhatikan kontrak manajemen hotel, franchise, lease, brand fee, management fee, incentive fee, dan masa berlaku kontrak.
- Gunakan seasonality bulanan bila data tersedia; forecast tahunan hanya merupakan simplifikasi.
- Jangan menganggap TPK kota sebagai okupansi hotel yang dinilai. Hotel dengan lokasi dan positioning berbeda dapat memiliki kinerja jauh berbeda.
- Untuk tujuan laporan penilaian yang mengikuti SPI/IVS, dokumentasikan sumber data, alasan pemilihan metode, rekonsiliasi indikasi nilai, dan analisis sensitivitas.
9. Kesimpulan
Penilaian hotel dengan DCF pada dasarnya adalah proses menerjemahkan kemampuan hotel menghasilkan pendapatan menjadi nilai kini. Tiga penggerak utama yang perlu diperhatikan adalah occupancy, ADR, dan margin/NOI. Setelah itu, discount rate dan terminal capitalization rate menentukan seberapa besar investor menghargai arus kas tersebut.
Untuk contoh hotel bintang 4 di Surabaya dengan 100 kamar, tanggal penilaian 31 Desember 2025, asumsi weighted ADR Rp 995.000, okupansi awal 55,00%, occupancy stabil 64,00%, NOI margin 30%, discount rate 12%, dan terminal cap 9%, diperoleh indikasi nilai sekitar Rp 94,35 miliar. Nilai tersebut merupakan contoh edukatif. Dalam penilaian aktual, asumsi harus diganti dengan data historis hotel, competitive set, kondisi aset, kontrak operator, capex, legalitas, serta bukti pasar pada tanggal penilaian.
10. Sumber Data dan Referensi
- BPS Kota Surabaya, Berita Resmi Statistik: TPK Hotel Desember 2025 di Kota Surabaya mencapai 52,96%, rilis 2 Februari 2026.
- BPS Kota Surabaya, data perkembangan pariwisata 2025: TPK hotel Surabaya dan rata-rata lama menginap.
- Bank Indonesia, informasi kebijakan BI-Rate; pada akhir 2025 BI-Rate berada pada 4,75%.
- Mandiri Investasi, Bond Market Commentary Desember 2025: yield SUN 10Y pada lelang SUN terakhir 2025 sekitar 6,16%.
- Trip.com, informasi pasar hotel bintang 4 Surabaya yang terindeks: rata-rata weekday/weekend sekitar Rp1,18–1,23 juta; digunakan sebagai cross-check tarif, bukan sebagai bukti historical rate per 31 Desember 2025.
- GuestPro, penjelasan konsep dan formula ADR.
- Catatan: seluruh angka tarif dan proyeksi dalam contoh DCF adalah asumsi ilustratif kecuali angka statistik pasar yang secara eksplisit disebut sebagai sumber.
Lampiran A – Rumus Sederhana yang Dapat Dipindahkan ke Excel
- Kamar tersedia = Jumlah kamar × 365
- Kamar terjual = Kamar tersedia × Occupancy
- Room Revenue = Kamar terjual × ADR
- RevPAR = ADR × Occupancy
- Total Revenue = Room Revenue + Other Revenue
- NOI/FCF = Total Revenue – biaya operasi – biaya tetap – reserve/capex sesuai definisi cash flow
- PV FCF = FCF / (1 + Discount Rate)^t
- Terminal Value = NOI tahun setelah forecast / Exit Cap Rate
- Nilai DCF = Σ PV FCF + PV Terminal Value
| Tipe Kamar | Jumlah | Tarif Indikatif/malam | Bobot | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Superior | 50 | Rp 850.000 | 50% | |||
| Deluxe | 40 | Rp 1.050.000 | 40% | |||
| Suite | 10 | Rp 1.500.000 | 10% | |||
| Weighted Average ADR | 100 | Rp 995.000 | 100% | |||
| Komponen | Asumsi | Keterangan | ||||
| Risk-free / benchmark jangka panjang | 6,16% | Referensi SUN 10Y akhir 2025 | ||||
| Premi risiko properti hotel | 5,84% | Risiko pasar + properti + operasional; ilustratif | ||||
| Tingkat diskonto unlevered | 12,00% | Asumsi dasar contoh | ||||
| Asumsi | Nilai | |||||
| Jumlah kamar | 100 kamar | |||||
| Kelas | Bintang 4 | |||||
| Weighted ADR tahun 2026 | Rp 995.000 | |||||
| Occupancy 2026 | 55,00% | |||||
| Occupancy stabil | 64,00% | |||||
| Pertumbuhan ADR | 3,00% | |||||
| Pendapatan selain kamar | 25% dari room revenue | |||||
| NOI margin | 30% dari total revenue | |||||
| Discount rate | 12,00% | |||||
| Terminal capitalization rate | 9,00% | |||||
| Terminal growth | 3,00% | |||||
| Tahun | Occ. | ADR | Kamar Terjual | Room Revenue | Total Revenue | NOI |
| 2026 | 55,00% | Rp 995.000 | 20,075 | Rp 19,97 miliar | Rp 24,97 miliar | Rp 7,49 miliar |
| 2027 | 58,00% | Rp 1.024.850 | 21,170 | Rp 21,70 miliar | Rp 27,12 miliar | Rp 8,14 miliar |
| 2028 | 60,00% | Rp 1.055.596 | 21,900 | Rp 23,12 miliar | Rp 28,90 miliar | Rp 8,67 miliar |
| 2029 | 62,00% | Rp 1.087.263 | 22,630 | Rp 24,60 miliar | Rp 30,76 miliar | Rp 9,23 miliar |
| 2030 | 63,00% | Rp 1.119.881 | 22,995 | Rp 25,75 miliar | Rp 32,19 miliar | Rp 9,66 miliar |
| 2031 | 63,50% | Rp 1.153.478 | 23,178 | Rp 26,73 miliar | Rp 33,42 miliar | Rp 10,03 miliar |
| 2032 | 64,00% | Rp 1.188.082 | 23,360 | Rp 27,75 miliar | Rp 34,69 miliar | Rp 10,41 miliar |
| 2033 | 64,00% | Rp 1.223.724 | 23,360 | Rp 28,59 miliar | Rp 35,73 miliar | Rp 10,72 miliar |
| 2034 | 64,00% | Rp 1.260.436 | 23,360 | Rp 29,44 miliar | Rp 36,80 miliar | Rp 11,04 miliar |
| 2035 | 64,00% | Rp 1.298.249 | 23,360 | Rp 30,33 miliar | Rp 37,91 miliar | Rp 11,37 miliar |
| Tahun | NOI | Discount Factor | PV NOI | Keterangan | ||
| 2026 | Rp 7,49 miliar | 0.8929 | Rp 6,69 miliar | Forecast | ||
| 2027 | Rp 8,14 miliar | 0.7972 | Rp 6,49 miliar | Forecast | ||
| 2028 | Rp 8,67 miliar | 0.7118 | Rp 6,17 miliar | Forecast | ||
| 2029 | Rp 9,23 miliar | 0.6355 | Rp 5,86 miliar | Forecast | ||
| 2030 | Rp 9,66 miliar | 0.5674 | Rp 5,48 miliar | Forecast | ||
| 2031 | Rp 10,03 miliar | 0.5066 | Rp 5,08 miliar | Forecast | ||
| 2032 | Rp 10,41 miliar | 0.4523 | Rp 4,71 miliar | Forecast | ||
| 2033 | Rp 10,72 miliar | 0.4039 | Rp 4,33 miliar | Forecast | ||
| 2034 | Rp 11,04 miliar | 0.3606 | Rp 3,98 miliar | Forecast | ||
| 2035 | Rp 11,37 miliar | 0.3220 | Rp 3,66 miliar | Forecast | ||
| Total | | | Rp 52,45 miliar | PV periode eksplisit | |||
| Komponen | Nilai | |||||
| PV forecast 2026–2035 | Rp 52,45 miliar | |||||
| PV terminal value | Rp 41,91 miliar | |||||
| Nilai indikatif hotel | Rp 94,35 miliar | |||||
| Discount Rate \ Exit Cap | 8,50% | 9,00% | 9,50% | |||
| 11% | Rp 103,38 miliar | Rp 100,68 miliar | Rp 98,27 miliar | |||
| 12% | Rp 96,82 miliar | Rp 94,35 miliar | Rp 92,15 miliar | |||
| 13% | Rp 90,80 miliar | Rp 88,55 miliar | Rp 86,53 miliar |