Valuasi Nusantara
Portal Keuangan & Penilaian
BI-Rate5,75%19 Agu 2026
SBN 10 tahun7,14%16 Sep 2026
ERP Indonesia6,69%Jan 2026
Inflasi (yoy)3,19%1 Sep 2026
IHSG6.43616 Sep 2026
USD/IDR17.89130 Sep 2026
HBA batu baraUSD 123,5415 Sep 2026
Harga ref. CPOUSD 1.007,511 Sep 2026

Kajian harga tanah

Harga Tanah Tambolaka –

Tambolaka adalah ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya — kabupaten yang dimekarkan dari Sumba Barat pada 2007 — dengan Waitabula sebagai pusat perdagangannya. Kota ini adalah gerbang udara utama Sumba bagian barat: hampir semua wisatawan yang menuju resor di Kodi, Lamboya, dan Wanokaka mendarat di Bandara Lede Kalumbang, sementara Dermaga Waikelo melayani arus barang. Posisi itu membuat Tambolaka me

Terbit 17 September 2026Sekitar 10 menit baca2.208 kataPenulis Redaksi Valuasi Nusantara

Ringkasan eksekutif

Tambolaka adalah ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya — kabupaten yang dimekarkan dari Sumba Barat pada 2007 — dengan Waitabula sebagai pusat perdagangannya. Kota ini adalah gerbang udara utama Sumba bagian barat: hampir semua wisatawan yang menuju resor di Kodi, Lamboya, dan Wanokaka mendarat di Bandara Lede Kalumbang, sementara Dermaga Waikelo melayani arus barang. Posisi itu membuat Tambolaka menjadi kota dengan pekarangan termahal di Sumba bagian barat, setara Waingapu. Dalam lima tahun terakhir, tanah di koridor jalan utamanya naik rata-rata 62% secara nominal, setara pertumbuhan majemuk ±10% per tahun.

Temuan utama kajian ini:

  • Bandara sebagai jangkar harga. Satu lahan ±1.986 m² di Jl. Mahoni — tiga menit dari Bandara Lede Kalumbang, berzona perumahan — ditawarkan Rp2,5 juta per m². Setelah koreksi negosiasi dan ukuran, koridor sekitar bandara diperkirakan sekitar Rp2 juta per m² — hanya sedikit di bawah pusat pertokoan Waitabula.
  • Tiga pasar dalam satu kabupaten. Pekarangan kota (Rp0,7–2,6 juta/m²), lahan pantai untuk resor di Kodi dan Loura (Rp80–500 ribu/m²), dan lahan pertanian atau bukit di pinggiran (Rp20–150 ribu/m²) bergerak dengan logika yang berbeda. Satu lahan 2 ha dekat Rumah Budaya Sumba bahkan ditawarkan Rp20 ribu per m² — Rp200 juta per hektare.
  • Jalur Pantura tumbuh tercepat. Jalan pesisir utara di Loura — jalur wisata Pantai Kita dan Oro — naik 12,3% per tahun, diikuti koridor Rumah Budaya dan jalan menuju Kodi.
  • Pasar stabil, tipis, dan beralas campuran. Portal properti mencatat harga tanah di Sumba Barat Daya relatif stabil dalam enam bulan terakhir. Rata-rata penawaran kabupaten sekitar Rp350 ribu/m² — didominasi lahan pantai dan kebun, bukan pekarangan kota.

Kota bandara di pesisir utara Sumba barat

Kawasan perkotaan Tambolaka berada di Kecamatan Kota Tambolaka dan meluas ke Kecamatan Loura di barat. Pusat perdagangan tumbuh di Waitabula, di selatan Bandara Lede Kalumbang; kawasan Kantor Bupati berada di selatan kota; Pasar Baru Oba Komi dan Wee Rena di timur. Di utara, jalan menuju Dermaga Waikelo dan jalur Pantura menyusuri pesisir menuju Pantai Kita, Oro, dan Kodi. Jalan nasional menghubungkan kota ke tenggara menuju Waikabubak dan ke barat daya menuju Kodi.

Gambar 1. Peta skematis sebaran estimasi harga tanah Agustus 2026. Gelembung = koridor muka jalan (kode sesuai Tabel 2); kotak = tanah lingkungan per desa/kelurahan, angka dalam Rp juta/m², skala warna logaritmik. Garis pantai, landas pacu, dan jalan digambar ulang secara skematis — bukan peta kadastral atau ZNT resmi.

Bandara, pelabuhan, dan resor

Perjalanan harga tanah Tambolaka 2021–2026 mengikuti tiga babak: pariwisata terhenti (2021), kebangkitan pariwisata Sumba (2022–2024), lalu pelandaian (2025–2026). Linimasa berikut merangkum peristiwa yang paling berpengaruh.

Pariwisata terhenti 2021 Penerbangan dan kunjungan wisatawan ke Sumba menurun tajam; pasar tanah kota hampir tidak bergerak. Kenaikan ±4,9%.

Bandara kembali ramai 2022 Penerbangan ke Tambolaka pulih; resor di Kodi dan pesisir selatan Sumba Barat kembali penuh. Permintaan penginapan, rumah makan, dan kendaraan sewa di kota melonjak. Kenaikan ±12,2%.

Gelombang lahan wisata 2023 Iklan lahan pantai dan tebing laut di Kodi dan Loura bermunculan; kota menampung homestay dan ruko baru. Kenaikan ±12,2%.

Pinggiran berkembang 2024 Hunian dan usaha menyebar ke Wee Rena, jalur Rumah Budaya, dan jalan menuju Waikelo. Kenaikan ±11,1%.

Stabil 2025 Portal properti mencatat harga relatif stabil. Kenaikan ±10%.

Landai 2026 Pusat kota bergerak moderat; koridor wisata tetap tumbuh lebih cepat.

Faktor struktural yang bekerja sepanjang periode

Empat gaya menopang harga: Bandara Lede Kalumbang sebagai pintu udara bagi Sumba Barat Daya, Sumba Barat, dan Sumba Tengah; Dermaga Waikelo untuk arus barang; pariwisata pantai dan budaya — Kodi, Pantai Kita, Danau Weekuri, kampung adat, dan Rumah Budaya Sumba; serta status ibu kota kabupaten yang masih terus dibangun.

Penahannya: daya beli yang rendah — PDRB per kapita Sumba Barat Daya tidak termasuk sepuluh besar Nusa Tenggara Timur; pasar pekarangan kota yang tipis; iklim kering; serta dominasi tanah adat dan lahan pertanian di pinggiran.

Catatan untuk penilai

Contoh penawaran 2025–2026: lahan ±1.986 m² di Jl. Mahoni, tiga menit dari bandara, berzona perumahan, Rp5 miliar (±Rp2,5 juta/m²); lahan ±3.000 m² di Jl. Newa dekat Dermaga Waikelo, berzona industri, Rp3 miliar (±Rp1 juta/m²); lahan ±1.955 m² di Wee Rena, depan rumah bupati lama, Rp2 miliar (±Rp1 juta/m²); lahan 5,5 ha di Kota Tambolaka Rp24,7 miliar (±Rp450 ribu/m²); lahan ±3.000 m² di Pogo Tena, Loura, dekat pantai Rp80 ribu/m²; lahan tebing pantai 3 ha di jalur Oro–Pantai Kita Rp300 ribu/m²; lahan 5,5 ha di Pantai Karoso, Kodi, Rp450 ribu/m²; lahan berair sungai ±9.722 m² Rp130 ribu/m² (Rp13 juta per are); dan lahan 2 ha dekat Rumah Budaya Sumba Rp20 ribu/m². Iklan di sini sering mencantumkan zona tata ruang (perumahan, industri, kuning) — informasi yang sangat berguna untuk memilih pembanding.

Kurva harga per kelas jalan

Grafik indeks menyamakan titik awal semua koridor pada angka 100 (Agustus 2021). Jalan provinsi tumbuh paling cepat karena memuat jalur Pantura Loura dan akses bandara–pelabuhan. Jalan nasional dan kabupaten bergerak berdekatan. Tahun pertama yang hampir datar mencerminkan pariwisata yang terhenti. Tanah lingkungan tumbuh sekitar 9,6% per tahun.

Gambar 2. Indeks rata-rata harga tanah per kelas jalan dan tanah lingkungan, Agustus 2021 = 100. *Agustus 2026 merupakan estimasi.

Gambar 3. Lintasan harga sembilan koridor terpilih, Rp juta/m² tanah pekarangan muka jalan.

Membaca angka pertumbuhan

Tabel berikut merangkum kenaikan rata-rata tahunan seluruh koridor. Di antara empat kota Sumba dalam seri ini, Tambolaka paling erat terikat pada arus penerbangan: tertahan paling dalam saat pariwisata terhenti, lalu naik di atas 12% selama dua tahun ketika bandara kembali ramai.

Tambolaka tidak termasuk kota sampel Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, dan statistiknya tercatat di tingkat kabupaten. PDRB per kapita Sumba Barat Daya tidak termasuk sepuluh besar Nusa Tenggara Timur — di bawah Rp21 juta — jauh di bawah Sumba Timur (Rp32,39 juta). Namun peran sebagai gerbang udara membuat harga pekarangan di pusat Tambolaka setara Waingapu: permintaannya datang bukan hanya dari penduduk lokal, tetapi juga dari pelaku usaha wisata dan investor dari luar Sumba.

Gambar 4. Pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) per koridor, Gambar 5. Tanah lingkungan per desa/kelurahan, Agustus 2021 vs 2021–2026. Agustus 2026.

Tabel perkembangan harga per koridor

Tabel 1 menyajikan estimasi harga tanah pekarangan di muka jalan untuk setiap koridor pada Agustus tiap tahun. Angka tahun-tahun sebelumnya disusun mundur dari estimasi 2026 dengan pola pertumbuhan tahunan yang mencerminkan pariwisata terhenti pada 2021 dan kebangkitan sesudahnya.

Agu

KodeKoridor / segmenKelas202120222023202420252026*CAGR
N1Jl. Utama Waitabula · Pusat pertokoan kotaNasional1,71,81,92,22,42,69,1%
N2Jl. Tambolaka – Waikabubak · Tenggara, arah Sumba BaratNasional0,380,400,440,490,550,609,7%
N3Jl. Tambolaka – Kodi · Barat daya, arah pantai KodiNasional0,260,280,320,360,400,4511,3%
P1Jl. Bandara – Mahoni · Sekitar Bandara Lede KalumbangProvinsi1,31,31,51,61,82,09,7%
P2Jl. Newa – Dermaga Waikelo · Utara, pelabuhan & zona industriProvinsi0,630,660,740,820,911,09,7%
P3Jl. Pantura (Loura) · Jalur wisata Pantai Kita & OroProvinsi0,170,180,200,240,270,3012,3%
K1Jl. Pasar Baru Oba Komi · Pasar & pertokoan baruKabupaten0,900,941,01,21,31,49,2%
K2Jl. Kawasan Kantor Bupati · Pusat pemerintahan kabupatenKabupaten0,760,790,880,991,11,29,7%
K3Jl. Wee Rena · Hunian & usahaKabupaten0,710,750,830,921,01,19,0%
K4Jl. Rumah Budaya – Kalena Wano · Timur laut, wisata & lahanKabupaten0,200,210,240,280,310,3511,8%
K5Jl. dalam Waitabula · HunianKabupaten0,650,680,750,840,921,09,0%

Tabel 1. Estimasi harga tanah pekarangan muka jalan, Rp juta/m², posisi Agustus tiap tahun. CAGR = pertumbuhan majemuk tahunan Agu 2021–Agu 2026. Garis warna di kiri: merah = jalan nasional, kuning = provinsi, biru = jalan kabupaten. *Estimasi.

Di sini jalan lokalnya memang jalan kabupaten

Tambolaka bukan kota otonom — kawasan perkotaannya adalah ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya. Karena itu jaringan jalan lokalnya ditetapkan sebagai jalan kabupaten oleh Bupati, seperti Waikabubak, Waingapu, dan Waibakul dalam seri ini. Jalan trans-Sumba menuju Waikabubak dan Kodi berfungsi sebagai jalan nasional; akses bandara, jalan ke Dermaga Waikelo, dan jalur Pantura termasuk ruas yang lazimnya berstatus jalan provinsi. Status dalam kajian ini bersifat indikatif dan perlu diverifikasi pada keputusan penetapan status ruas jalan terbaru.

Estimasi nilai per jalan utama

Estimasi berlaku untuk bidang tanah pekarangan bersertifikat hak milik dengan kesepakatan adat yang tuntas, luas 200–600 m², lebar muka 10–15 m, tanah matang siap bangun, kontur relatif datar, di zona permukiman atau perdagangan, serta rata dengan jalan. Rentang menangkap variasi di sepanjang segmen: persil komersial di pusat Waitabula atau dekat bandara berada di batas atas; persil di jalan dalam atau masih berupa kebun berada di batas bawah.

Gambar 6. Rentang dan titik tengah estimasi Agustus 2026 dibanding posisi Agustus 2021.

Cara membaca rentang

Rentang terlebar ada di Jl. Utama Waitabula (Rp1,9–3,9 juta/m²) dan koridor bandara–Mahoni (Rp1,5–3 juta/m²). Di koridor Pantura, harga sangat bergantung pada pemandangan laut dan kedekatan ke pantai — lahan tebing pantai bisa beberapa kali lipat lahan di sisi darat jalan yang sama. Titik tengah sebaiknya dipakai sebagai nilai awal, lalu disesuaikan dengan karakter persil (lihat Tabel 4).

Tabel estimasi Agustus 2026 per koridor

Titik

tengah

Jl. Utama Waitabula

Tambolaka

Jl. Tambolaka – Waikabubak

Kota Tambolaka

Jl. Tambolaka – Kodi

Tambolaka

Jl. Bandara – Mahoni

Kota Tambolaka

Jl. Newa – Dermaga Waikelo Dermaga Waikelo, gudang &

industri Loura

Jl. Pantura (Loura)

Loura

Jl. Pasar Baru Oba Komi

Tambolaka

Jl. Kawasan Kantor Bupati

Kota Tambolaka

Jl. Wee Rena

Hunian & usaha · Kec. Kota Tambolaka

Jl. dalam Waitabula

Hunian · Kec. Kota Tambolaka

Jl. Rumah Budaya – Kalena Wano

Tambolaka

Tabel 2. Estimasi nilai pasar indikatif tanah pekarangan muka jalan per Agustus 2026, Rp juta/m². Status jalan bersifat indikatif.

Dari muka jalan ke kebun dan pantai

Tabel 3 memberikan estimasi tanah lingkungan per desa dan kelurahan beserta rasio terhadap koridor terdekat. Rasio di Tambolaka berkisar 1,6–2,7 kali. Di Waitabula, tanah di belakang jalan utama bernilai hampir Rp1 juta per m²; di desa-desa pinggiran seperti Kalena Wano dan Pogo Tena, lahan masih di kisaran Rp100–150 ribu per m².

Agu

2026*

Tabel 3. Estimasi tanah lingkungan (akses mobil, jalan 4–6 m, kesepakatan adat tuntas), Rp juta/m². Rasio = titik tengah koridor acuan ÷ tanah lingkungan.

Panduan penyesuaian cepat

Posisi sudut (hook)+5% s.d. +10%
Dalam radius 1 km dari bandara+5% s.d. +20%
Zona industri / pergudangan (dekat Waikelo)−10% s.d. −30% untuk penggunaan hunian
Lahan pantai / tebing laut untuk resorpasar tersendiri — gunakan pembanding pesisir
Lahan luas > 1 hektare (diskon ukuran)−30% s.d. −60%
Kebun / lahan pertanian−60% s.d. −85%, gunakan pembanding pertanian
Tanah adat / belum bersertifikattidak sebanding — kaji terpisah

Tabel 4. Rentang penyesuaian indikatif terhadap objek standar. Besaran akhir harus didukung data pembanding di lokasi.

Prospek 12 bulan ke depan

Pertumbuhan diperkirakan tetap terkonsentrasi di koridor bandara–Waitabula dan jalur wisata pesisir — Pantura Loura dan jalan menuju Kodi. Pusat kota diperkirakan bergerak 6–8% per tahun. Skenario dasar kajian ini: kenaikan rata-rata 6–9% untuk Agustus 2027. Risiko ke bawah: penurunan frekuensi penerbangan, daya beli lokal yang rendah, dan persoalan tanah adat; risiko ke atas: penambahan rute dan kapasitas bandara, investasi resor baru, dan pengembangan Dermaga Waikelo.

Bagaimana angka disusun

1. Objek standar Tanah pekarangan bersertifikat hak milik dengan kesepakatan adat yang tuntas, luas 200–600 m², lebar muka 10–15 m, tanah matang siap bangun, kontur relatif datar, di zona permukiman atau perdagangan di kawasan perkotaan Tambolaka–Waitabula, tanpa bangunan.

2. Triangulasi data 2025–2026

Penawaran di Kota Tambolaka lebih beragam daripada kota-kota Sumba lain dalam seri ini — mencakup lahan kota berzona perumahan dan industri, lahan pantai, dan lahan pertanian. Penawaran pekarangan kota dikoreksi diskon negosiasi 15–25% dan diskon ukuran; lahan pantai dan pertanian dipakai hanya sebagai pembanding untuk koridor pinggiran.

3. Rekonstruksi 2021–2025

Harga tahun sebelumnya disusun mundur dari estimasi 2026 menggunakan pola pertumbuhan tahunan yang sama untuk seluruh koridor (bobot 10%–24%–24%–22%–20% dari total pertumbuhan logaritmik), dengan bobot 2021 yang kecil untuk mencerminkan pariwisata yang terhenti.

4. Tingkat keyakinan & tanah adat

Estimasi sebaiknya diperlakukan sebagai kisaran awal dan diverifikasi dengan survei lapangan, NJOP, catatan kantor pertanahan, dan wawancara pelaku pasar lokal. Pastikan alas hak, zona tata ruang, dan kesepakatan dengan pemangku adat.

5. Batasan

Tulisan ini adalah materi edukasi dan analisis pasar indikatif, bukan laporan penilaian menurut Standar Penilaian Indonesia (SPI) dan tidak boleh dipakai sebagai dasar transaksi, agunan, atau perpajakan. Nilai untuk tujuan tersebut memerlukan inspeksi lapangan dan penilaian oleh Penilai Publik/KJPP berizin.

Sumber rujukan

— 99.co dan Lamudi (2025–2026): penawaran di Jl. Mahoni (Rp2,5 juta/m²), Jl. Newa dekat Dermaga Waikelo (Rp1 juta/m²), 5,5 ha di Kota Tambolaka (Rp24,7 miliar), Pogo Tena (Rp80 ribu/m²), jalur Oro–Pantai Kita (Rp300 ribu/m²), Pantai Karoso, Kodi (Rp450 ribu/m²), lahan sungai (Rp13 juta per are), dan lahan dekat Rumah Budaya Sumba (Rp20 ribu/m²); rata-rata penawaran Sumba Barat Daya sekitar Rp350 ribu/m².

— Rumah123 dan Fazwaz: penawaran di Wee Rena, depan rumah bupati lama (Rp2 miliar untuk ±1.955 m²); harga tanah Sumba Barat Daya relatif stabil dalam enam bulan terakhir; Kabupaten Sumba Barat Daya dibentuk pada 2 Januari 2007 dengan ibu kota Tambolaka.

— BPS melalui Databoks (2026): sepuluh besar PDRB ADHB per kapita NTT 2025 — Sumba Barat Daya tidak termasuk di dalamnya.

Tentang Valuasi Nusantara

Portal edukasi penilaian di Indonesia: properti, bisnis, aktiva tak berwujud, sumber daya alam, dan penilaian untuk tujuan perpajakan. Data dan kertas kerja lain tersedia di Pusat Data valuasinusantara.com. Masukan dan koreksi data pasar dapat dikirim ke valuasinusantara@gmail.com.